Pertanyaan :
Sedekah apakah yang paling afdol yang dapat seorang wanita atau seorang Istri bisa lakukan, sedekah apa yang paling afdol Ustadz ?
Jawaban :
Sedekah yang paling afdhal itu sifatnya relatif, karena bentuk sedekah sendiri bermacam-macam. Salah satu faktor terpenting adalah keikhlasan. Sedekah yang kecil tetapi dilakukan dengan hati yang ikhlas bisa menjadi lebih afdhal daripada sedekah besar yang bercampur ketidakikhlasan atau bahkan disertai ucapan yang menyakitkan. Besarnya pahala sedekah sangat dipengaruhi oleh banyak faktor.
Contohnya, sedekah seorang istri kepada suaminya. Membahagiakan suami, melayani dengan baik, atau membantu kebutuhan suami — itu termasuk sedekah, dan sering kali lebih utama daripada sedekah kepada orang lain. Ini sebagaimana kisah Zainab, istri Ibnu Mas‘ud. Ketika Zainab ingin bersedekah, Ibnu Mas‘ud berkata, “Lebih baik kamu sedekahkan kepadaku.” Zainab ragu dan bertanya kepada Rasulullah ?, dan beliau membenarkan perkataan Ibnu Mas‘ud.
Afdhal atau tidaknya sebuah sedekah juga bisa dilihat dari kondisi hati dan situasi seseorang. Misalnya, ketika seseorang sedang sangat cinta dengan hartanya, atau berada dalam kondisi sulit dan pelit-pelitnya sama uang, lalu ia tetap bersedekah — hal itu lebih besar pahalanya. Begitu pula ketika seseorang masih muda, sehat, dan bersemangat mencari harta; sedekah pada saat itu lebih utama dibandingkan ketika ia sudah sakit, lemah, atau menjelang ajal.
Karena itu, jangan menunda sedekah sampai saat-saat terakhir kehidupan, lalu baru berwasiat: “Untuk Fulan sekian, untuk Fulan sekian.” Ketika seseorang sudah hampir meninggal, wajar jika ia mudah melepas harta karena ia sadar bahwa hartanya memang akan berpindah. Namun pahalanya tidak sama dengan sedekah di masa sehat dan kuat.
Intinya, banyak faktor yang memengaruhi nilai dan keutamaan sedekah: ikhlas atau tidak, kondisi hati, manfaatnya bagi penerima, waktu ketika sedekah dilakukan, serta kesungguhan seseorang dalam melepas harta. Semua itu menentukan apakah sedekah tersebut menjadi lebih afdhal atau sekadar biasa saja. Na‘am.
Di nukil dari pertanyaan kajian akbar “Dunia Hanya Untuk 4 Orang”